Trip To Eats

Simple guide to your taste and travel
Featured Overseas

Trip Ke Kyoto Jepang: Day 1

Trip ke Kyoto Jepang selama 2 hari adalah waktu yang sangat singkat buat saya. Apalagi ini  adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di negeri sakura. Senangnya bukan kepalang saat menginjakkan kaki pertama kali di Narita Airport Tokyo. Mendarat di bandara tersebut saya langsung mencari transportasi menuju Kyoto. Kenapa justru explore Kyoto terlebih dahulu, karena saya akan pulang kembali ke Jakarta melalui Narita airport. So, pilihan untuk pergi ke prefektur yang lebih jauh terlebih dahulu adalah tepat supaya tidak terburu-buru mengejar flight pulang ke bandara.

Tiba di Narita Airport selfie dulu dengan background pesawat

Long journey to Kyoto

Trip ke Kyoto dari Narita airport adalah perjalanan panjang buat saya karena memilih jenis transportasi yang murah serta kondisi Tokyo yang hujan angin saat saya tiba. Dari Narita usai sukses mengantongi suica dan portable wifi, saya naik shuttle bus bandara menuju pusat kota Tokyo. Untuk naik shuttle bus ini saya menunggu di bus stop no.19 (baca informasinya di sini). Tak lama bus pun tiba. Petugas dengan baik hati mengurus koper di bagian bagasi, jadi saya bisa langsung melenggang naik ke bus, membayar tiket 1000JPY di mesin dekat supir bus dan lanjut duduk manis hingga tiba di halte Tokyo station. Lama perjalanan sekitar 55 menit.

Tiba di halte pemberhentian yang tidak jauh dari Tokyo station dengan kondisi masih hujan angin. Untuk menunggu hujan (yang ternyata redanya lama banget), membeli makan di Lawson yang tidak jauh dari halte adalah pilihan yang tepat. Di dalam saya membeli spaghetti saus krim serta air mineral (612JPY) . Jangan harap ada kursi di mini market seluruh Jepang, saya dan teman akhirnya makan sambil berdiri di luar pintu Lawson. Lalu karena hujan tampaknya tak kunjung berhenti, kami putuskan membeli payung besar (570JPY) untuk menembus hujan dan berjalan ke halte willer bus.

Ternyata kami perlu berjalan kaki cukup jauh menurut google maps. Sambil melawan hujan angin, sesekali lewat genangan air, sambil memegang payung dan menggeret koper, sampai juga kami di Tokyo kajibashi parking lot tempat willer bus yang akan mengantarkan kami ke Kyoto sesuai jadwal yakni pukul 22.30. Di dalam ruang tunggu sudah berdesakan orang-orang yang mayoritas warga lokal sedang menunggu bus pula. Awalnya sempat berdiri, akhirnya kami dapat tempat duduk juga. Selain tempat duduk untuk menunggu, ada juga tempat untuk charge handphone dan vending machine. Waktunya pun tiba untuk naik bus dan kami akan lewati malam pertama di Jepang di dalam bus menuju  Kyoto.

Trip ke Kyoto Day 1

Turun dari willer bus tidak jauh dari Kyoto station sekitar pukul 06.00, terasa sekali atmosfer yang berbeda dengan Tokyo. Kyoto terasa lebih tertata apik, mungkin karena bukan ibukota negara dan bukan kota bisnis juga. Itu sebabnya saya lebih memilih ke Kyoto daripada ke Osaka. Walaupun nanti tetap ingin mampir ke Osaka Castle karena punya JR Kansai area pass.

Pemberhentian willer bus di dekat Kyoto Station

Dari Kyoto Station usai kami cuci muka dan berganti baju serta menyimpan koper di loker yang banyak terdapat di pintu masuk station (sewa mulai dari 300JPY), kami lanjut menukar Kansai Area Pass di kantor JR yang letaknya berlawanan dengan pintu kami datang. Kami harus memutari gedung Kyoto Station dari luar untuk sampai ke sana. Cukup memakan waktu memang, tapi pastikan kalian bertanya supaya tidak tersasar seperti kami yang berpikir bisa menyeberang dari dalam stasiun untuk bisa sampai di sisi lain pintu Kyoto station.

Suasana di dalam Kyoto station pagi hari

Usai mengantongi Kansai Area Pass, kita menuju peron jalur 32-33 untuk ke JR Umahori Station, stasiun transit untuk berpindah ke Kameoka Torokko Station, tempat untuk naik Sagano Romantic train. Sedikit informasi bahwa di Jepang ada beberapa kereta tua yang dulu merupakan moda transportasi warga namun kini hanya dijadikan objek wisata saja karena dianggap sudah ketinggalan zaman. Sagano Romantic train ini salah satunya.

Dari JR Umahori Station, saya mampir dulu ke Lawson untuk membeli perbekalan sarapan yaitu sandwich, susu, dan air mineral. Posisi Lawson sangat dekat dengan JR Umahori Station, langsung terlihat sejak pintu keluar stasiun. Dari situ saya lanjutkan berjalan kaki sekitar 10 menit saja ke Kameoka Torokko Station dengan mengandalkan petunjuk arah yang diinformasikan di pintu keluar stasiun. Selama berjalan kaki ke Kameoka, pemandangan sawah dan gunung dinaungi langit biru bersih, serta udara sejuk menjelang musim gugur sama sekali membuat lupa kalau saya sedang berjalan kaki. Beda banget sama di Indonesia yang kalau jalan kaki di desa pun panasnya minta ampun.

JR Umahori Station
Pemandangan di depan Kemoka Torokko Station

Sampai di Kameoka Torokko Station, orang yang antri tidak terlalu banyak, saya pikir saya dapat tiket duduk meski sudah pesimis akan dapat tiket gerbong open air. Tapi ternyata saya salah, tetap saja saya dapat tiket berdiri di gerbong biasa pula, bukan yang open air. Jadi tips dari saya adalah harus datang pagi-pagi sekali kalau mau dapat tiket di gerbong open air yang atapnya dari kaca. Loket di Kameoka Station buka 8.53 am. Harga tiketnya 620 JPY untuk sekali naik.

Tiket sudah di tangan, kini saatnya menunggu. Jangan khawatir bosan saat menunggu kereta datang, Sekitar Kameoka Station itu instagramable banget. Pastikan saja kalian gak ketinggalan kereta ya, jadi jangan ambil spot foto terlalu jauh juga. Selain itu bisa juga belanja suvenir Sagano Train. Ada gantungan handphone, saputangan, tas serut, gantungan kunci, magnet kulkas, pembatas buku, bahkan miniatur kepala kereta Sagano juga ada.

River view along the way in Sagano Romantic Train

Sagano Romantic train melintasi jalur Hozukyo Ravine yakni aliran sungai dikelilingi tebing tinggi penuh pepohonan. Ada juga satu spot yang saya perhatikan dimana terdapat jejeran rumah tradisional di pinggir tebing. Seperti kebanyakan tujuan wisata lain di Jepang yang pemandangannya berubah sesuai musim, begitu juga saat naik Sagano Romantic train. Kalian bisa pilih saat musim semi melihat pohon sakura, musim panas melihat pepohonan hijau, saat musim gugur melihat pohon-pohon berwarna oranye atau melihat semuanya putih tertutup salju saat musim dingin. Karena saya pergi saat musim peralihan jadi dapat banyak hijau dan sedikit merah-oranye.

Sagano Romantic Train (photo: pixabay)

Kereta bergerak lambat, namanya juga kereta wisata. Jadi saya bisa merekam selama perjalanan dengan nyaman (meski agak sulit juga sambil berdiri).

Sekitar separuh perjalanan, ada seorang pria bertopeng khas Jepang (yang menurut saya agak seram sih) tiba-tiba muncul. Pria itu menyapa semua penumpang kereta dan mengajak berfoto. Tidak bawa kamera tidak masalah, pria itu datang bersama fotografer yang menawarkan hasil foto berbayar yang dibundling bersama frame Sagano Romantic train.

Tak sampai 25 menit tiba di Arashiyama Torokko station. Sementara jika kalian ambil jalur yang lebih panjang Kameoka-Hozukyo-Arashiyama-Saga, waktunya sekitar 25 menit.Kami memilih turun di Arashiyama untuk lanjut jalan kaki melihat Arashiyama Bamboo Forest.

TIPS: kalian bisa berangkat dari stasiun mana saja dan turun di stasiun mana saja. Harganya sama untuk sekali naik. Tinggal kalian pilih mau lihat Arashiyama bambo forest dulu atau naik Sagano romantic train dulu. Jika ingin lihat Arashiyama bambo forest dulu, bisa naik Sagano romantic train dari Arashiyama Torokko. Kebalikan dari yang saya lakukan. Nanti kalian bisa pulang dari JR Umahori station untuk kembali ke Kyoto Station. Tambahan lain kalau punya uang ekstra, bisa coba Hozugawa river boat ride, yang akan melalui jalur yang persis dengan Sagano romantic train tapi di atas sungai menggunakan perahu.

Memanjatkan doa dengan lonceng di dekat Arashiyama Torokko Station

Dari Arashiyama Torokko Station lalu naik ke atas dan kalian akan lihat beberapa penjaja makanan dan suvenir. Kami sempat duduk menikmati bekal yang kami bawa, sambil mencicipi jajanan yang ada di situ.

Pergi di akhir Oktober, daunnya mulai merah sebagian
jajan mochi usai turun Sagano train

Dari situ saya mencoba mencari petunjuk untuk ke Arashiyama bamboo Forest. Tapi teman saya justru mengajak untuk belok kiri karena ada sepasang kakek nenek yang ingin naik becak khas Jepang. Ternyata tidak jauh dari situ, terdapat seperti tempat sembahyang yang menggunakan lonceng. Saya tidak tahu persis apakah tempat itu bisa disebut shrine atau bukan. Di tempat berdoa ini ada sebuah bangunan kecil seperti loket dengan penjaga. Jika ingin membuat harapan yang ditulis di atas papan kayu kecil bisa membayar di loket tersebut. Nanti papan kayu yang sudah kita tulis bisa digantung di tempat yang sudah disediakan.

memanjatkan doa
papan kayu berisi berbagai harapan

Deretan bambu instagramable di Arashiyama Bamboo Forest

Usai melihat ‘shrine‘ kecil tadi, saya berjalan agak menanjak untuk ke Arashiyama Bamboo Forest, spot wajib yang harus didatangi kalau sedang ke Kyoto. Tinggi bambu di tempat ini kira-kira lebih dari 5 kali tinggi orang dewasa. Jadi ketika jalan di jalur ini, cahaya matahari yang tembus hanya sekilas saja diantara celah-celah pohon bambu. Baiknya datang pagi hari, saat belum terlalu ramai atau bisa juga sabar menunggu untuk dapat foto tanpa background orang-orang lewat. Jalur bamboo forest ini tidak terlalu panjang tapi dengan kontur jalan yang naik turun. Ada pula yang melewati jalur ini dengan menggunakan becak tradisional lengkap dengan baju kimono.

Melihat wanita-wanita berkimono di Tenryuji Temple

Berjalan terus dari jalur Arashiyama bamboo forest hingga ujung, sampai juga di Tenryuji Temple. Sayangnya sedang ada upacara (yang tampaknya seperti upacara minum teh kata teman saya) di dalam temple jadi pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam bangunan temple.

Area taman di Tenryuji temple sangat menggambarkan desain taman Jepang yang minimalis namun tertata rapi. Gabungan antara elemen tanaman, bebatuan, dan rumput. Sebelum masuk ke area utama, ada sebuah kolam permohonan dimana kita bisa melemparkan koin ke dalam sebuah cawan di ujung kolam. Saya sempat mencoba sekali namun gagal. Teman saya juga mencoba menggunakan koin Rupiah tapi sayangnya gagal juga.

Masuk jauh lebih ke dalam, ada sebuah kolam yang sangat besar diantara taman dan pepohonan yang pemandangannya ke perbukitan. Sekelilingnya dipagari rantai agar pola garis yang sudah dibuat di bebatuan tidak rusak. Warna daun-daun di sekitar kolam ini mulai merah, pertanda sebentar lagi musim gugur. Bangunan utama berada persis di dekat kolam besar ini. Karena ada upacara jadi banyak sekali warga lokal mengenakan kimono. Kimononya cantik-cantik sekali. Bahkan hanya dengan melihat saja, tanpa memegang, saya tahu kimono itu harganya mahal. Karena kimono yang mereka kenakan cenderung tidak bermotif dengan warna-warna salem. Mungkin disesuaikan dengan jenis upacaranya supaya terkesan lebih formal.

Sudah puas mengelilingi Tenryuji Temple, saatnya kembali ke Kyoto Station. Jangan takut tersasar, karena akan ada petunjuk untuk berjalan kaki ke JR Saga Arashiyama station. Tidak jauh jalan kakinya, sekitar 20 menit saja. Sebelum menuju JR Saga Arashiyama station, kami sempat mampir menikmati takoyaki. Selain takoyaki, banyak toko makanan lain dan suvenir di pertigaan jalan sebelum ke stasiun JR.

Persis di sebelah JR Saga Arsahiyama Station, terdapat lokomotif tua yang sangat besar. Lokomotif tua ini masih terlihat bagus dengan warna hitam legam, mungkin selalu dicat ulang karena sebagai daya tarik objek wisata.

Osaka castle di malam hari

Tidak mau melewatkan benefit 2 days Kansai Area Pass yang bisa dipakai hingga ke Osaka, saya sempatkan untuk naik JR ke Osaka Castle. Dari Kyoto Station saya naik JR train ke Morinomiya Station. Namun ternyata jalannya cukup jauh dan saya berkejaran dengan matahari terbenam. Pertama saya harus menyeberang jalan dulu baru menemukan sebuah pintu masuk ke area Osaka castle yang sangat luas. Osaka castle dikelilingi oleh taman yang sangat luas.

Taman yang mengelilingi Osaka Castle jadi seperti taman kota yang besarnya cukup luas. Saya sempat melewati sebuah bundaran dimana ada satu penjual kopi. Kemudian saya berjalan lurus melewati bundaran tersebut dan menemukan sebuah jalan yang sangat lebar diapit deretan pohon. Karena hari mulai gelap dan di tempat itu ditemani suara burung gagak yang memang menjadi ‘penghuni tetap’ Kyoto, sempat agak serem juga jadinya. Eh tapi ternyata teman saya malah minta difoto di jalan setapak antara pepohonan. Maklum saja, di Jakarta mana ada taman kota selebat ini.

Saya lalu berjalan lurus dan menemukan deretan pohon yang warnanya mulai kemerahan. Kebetulan pohon-pohon itu berada di tepian sungai yang dipagari. Sungai ini mengelilingi Osaka Castle. Jadi sepertinya istana ini berusaha dilindungi dengan membuat sungai di sekelilingnya.

Teman saya yang girang banget melihat daun-daun jingga mulai muncul, akhirnya kita sempat lama berfoto di tempat ini hingga matahari nyaris terbenam. Karena waktu yang sudah terlalu sore sehingga akses masuk ke Osaka Castle sudah tutup, kami harus puas melihat puncak atap Osaka Castle saja. Semakin malam, Osaka Castle mulai disorot cahaya lampu. Cantik sekali.

Kami mengambil jalan pulang yang berbeda. Saya pulang dari Osakajokoen station. Sebenarnya ini bukan karena kebetulan tapi karena kami bermaksud untuk eksplorasi taman Osaka Castle lebih jauh, dan saya lihat di google maps pun ada stasiun JR juga di sisi yang berbeda. Namun uniknya, karena mengambil jalan pulang berbeda, saya jadi melewati Osaka Castle Hall dan deretan restoran mewah dengan desain minimalis yang sangat cantik. Gaya khas Jepang. Deretan restoran mewah itu mirip dengan konsep Samasta Lifestyle Village di Jimbaran, Bali.

Akhirnya selesai juga petualangan saya hari pertama di Kyoto (plus Osaka Castle). Rencana awal mau belanja juga di Osaka yakni di Dotonbori yang terkenal, tapi karena sudah malam dan kelelahan serta berpikir jarak kembali ke Kyoto cukup jauh, akhirnya memutuskan untuk pulang ke guesthouse yang letaknya dekat Fushimi Inari.

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *